Hidup Itu Kejam ????

January 6th, 2007 by widiyas

Satu teman lama datang…
Dari pesisir pantura, mengais rupiah merantau ke tanah Dayak
Satu hari di akhir tahun kemarin, dia datang tiba-tiba…
Semua cerita dan keluh terlontarkan
Sampai kadang ku tak mampu membendung luapannya

Satu petikan kata darinya yang teringat tajam
" HIDUP ITU KEJAM KAWAN…yo kudu rekoso (baca : ya harus susah payah berusaha)"
Satu argumen keras dariku sempat terlontar menghujam telak pendapatnya
" BUKAN, HIDUP ITU INDAH"

Ya hidup itu indah, penuh warna
Tinggal bagaimana kita melihatnya
Dengan kacamata bijak atau kacamata bengis
Secara bengis dan penuh ironi memang kejam
Karena begitu banyak cobaan dan terpaan yang merepotkan
Mengais rupiah dengan penuh keringat jiwa dan raga hanya untuk sesuap nasi
Apalagi saat ini, semua UUD (Ujung - Ujungnya Duit)
Bahkan untuk kencing pun mesti merogoh kocek 1000 rupiah
Mungkin itulah satu garis keturunan dari yang namanya EKONOMI
Semua usaha dinilai secara ekonomis
Satu nilai pengganti yang berterima umum dan "mampu tukar" adalah duit
Jadi ya, ujung-ujungnya duit

Tapi mungkin kacamata bijak melihatnya sebagai satu inheren yang harus dinikmati
Mengais rupiah memang susah, pasti bertemu dengan banyak rintang
Beradu dengan banyak tantangan
Teruji dengan banyak cobaan
Tapi langkah demi langkah dalam mengais rupiah adalah sebuah pelangi
Pelangi yang penuh warna, penuh adegan, penuh gerak, penuh nyanyian, penuh intrik
Sebagai sebuah sendratari nyata yang secara gratis tersaji di depan mata
Sebagai sebuah rangkaian episode dimana kita sebagai lakon-lakonnya
Coba bayangkan jika hidup tanpa rintang, tantangan, cobaan
Pasti hampa…seperti terapung di ruang hampa tanpa batas

Sejenak kutancapkan pandangan mata temanku ini
Sejenak kuarahkan matanya keluar
Menatap jauh melihat luas satu demi satu adegan nyata
Adegan nyata di balik frame jendela kaca di hadapan kami
Nikmati dinginnya AC di ruang ini, dan silaukan oleh panasnya siang di luar sana
Satu per satu tonton gerak-gerik orang berlalu lalang dengan segala perannya
Sambil kami jilati sebuah ice cream cone vanila
Nikmat banget……………….
Ya enak, nikmat sekali

Lalu yang jadi pertanyaan adalah……….
Apanya yang nikmat, apanya yang membuat enak
Apakah adegan nyata di balik jendela yang sedang ditonton
atau
Apakah Ice cream cone vanila yang sedang dijilati

Mana, mana, yang mana….
HIDUP ITU INDAH
atau
ICE CREAM ITU ENAK

KU JEMU

October 8th, 2006 by widiyas

Hih….menjemukan
Ternyata apa yang terkerjakan selama ini tidak jauh dari kata "menJEMUkan"
Membuat JEMU dan begitu nista
Rasanya ada satu kesalahan besar….
Astagfirullah…

Malaikat "cantikku" saat ini begitu indah
Malaikat "cantikku" kau jangan JEMU-JEMU ingatkan aku
Putarkan arahku kembali
Dampingi aku kembali kepada-Nya

Mengenalmu, sadarkanku pada Syahadah
Untuk sejenak merengkuk dari ambisi duniawi
Untuk melongok meluruh pasal-pasal akhirati

Alhamdulilah

amien

Pagi Mata Terbuka Pedas

August 29th, 2006 by widiyas

Jalanan pagi ini sudah ramai dan pikuk sekali
Asap knalpot sudah jadi barang gratisan di jalanan
M 01 A jurusan Senen-Kampung Melayu
Penuh isi penumpang mikrolet ini
Dua duduk di depan sebelah sopir
Di bangku belakang berderet sebelah kiri empat orang
Di bangku belakang berderet sebelah kanan enam orang
Dua orang lagi duduk di bangku kayu di samping pintu tengah menghadap belakang

Naik dari Saint Carolus menuju Kampung Melayu
Angkot ini kecil, penumpangnya cuman seberapa
Tapi tetap aja ada pengamen di angkot ini
Satu penumpang berteriak "Kiri, Bang"
Dan angkot kijang ini pun merapat ke kiri
Berhenti menurunkan ibu-ibu paruh baya berseragam Pemda

Satu ibu turun, Satu anak kecil naik
Tapi anak ini tak duduk di dalam di deretan bangku penumpang selayaknya kami
Dia tetap berdiri bersandar pada sisi pintu menghadap depan searah arah berjalannya mobil
Satu persatu kami diberinya amplop kecil
Amplop yang berbeda-beda, mungkin dia kumpulkan dari sisa amplop bekas
Gitar "kentrung" kecil di sandingnya di dada
Usianya mungkin masih 9-10 th tapi di tak lagi menyanyikan "Selamat pagi bu guru…" di kelas
Dia mengumandangkan "Hatiku bimbang….." sebuah lagu dari Peterpan
Orang dalam angkot ini hanya diam tak acuh, atau mungkin ada pula yang tergerak iba
Suara kecil "cemprengnya" begitu menggil di jiwa

Sebuah penghelatan hebat
Sebuah pergulatan jiwa yang kian rancak
Sebuah perseteruan yang tak mampu tertorehkan dalam kata

Sementara di sini si kecil yang layaknya bermain di sekolah harus mengais receh
Sementara di sini orang-orang ini harus berkeringat dan menghirup asap gratisan setiap pagi
Sementara para pekerja ini harus berjuang manahan sabar dalam pikuk macet tiap berangkat kerja
Sementara masih lebih banyak di sini yang memar dan gempar
Bukan iri, bukan dengki
Hanya meluruh wahai kau para jiwa yang terbungkam oleh nuansa gemerlap

Petikan

July 10th, 2006 by widiyas

Satu kalimat yang dapat kupetik :

"Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hatinya."

Merasa tergetar dan tersentuh mendengarnya.

Satu petikan kalimat yang tertuang dalam blog "rima"

Bagi kau yang telah mematahkan hati….selamat…

Namun jiwa ini tak diam….jiwa ini tak redam

Bagi kau yang membangkitkan kembali hati….terima kasih

Jiwa ini akan mengenang…. jiwa ini akan merengkuhmu dalam-dalam

Hihihi…puitis banget….tapi itu mungkin yang sekian kali terjadi diantara

para pengembara kehidupan…

Lampuuk

July 1st, 2006 by widiyas

Dua telapak kaki ini berpijak
Sebuah pijakan yang dalam
Tegak bagai upacara bendera
Jemari kaki mencakar pasir putih
Mulut terdiam, Tangan terbentang, Mata menyimak
Otak sejenak mengumandang alam khayal

Berdiri menatap redup mentari
Mentari berpulang pada cakrawala
Jelang Adzad Magrib berkumandang
Gradasi senja, laut, dan pasir putih di Lampuuk
Di tepian perbukitan pantai kota Banda

Begitu nglangut
Mendapati aku, tiang listrik berkarat tumbang
Sisa runtuhan tembok dan pondasi bangunan
Tertimbum rapi oleh pasir putih
Dulu pantai tak berbatas di sini
Dulu pantai berbatas jauh di sana
Di sini dulu pemukiman
Di sanalah dulu pantai

Tempat Andi, Zainal, Rindang, dan Abos kecil bermain kelereng
Tempat Nyak Muna, Kak Intan, Nyak Maulinan, dan Dewi  Rumba  merajut kain bordir
Tempat Pak  Nazar, Pak Jamal, Pak  Yaip, dan Pak Abu meronda
Sekarang jadi tempat pijakan kakiku
Tempat yang dipenuhi padang pasir putih pantai

Suara ceriwis dan tawa renyah anak-anak
Suara renyah kumandang pengajian
Suara-suara itu kini sepi
Suara-suara itu berganti suara menggelegar ombak

Kebesaran Allah
Satu masjid masih berdiri tegak
Meski beberapa dindingnya runtuh
Perkampungan sekitarnya telah sirna
Perkampungan itu telah rata
Benar-benar rata….
Hanya satu masjid berdiri

Subhanallah………

Sumur itu tlah jadi pantai

June 25th, 2006 by widiyas

Hari ini berbeda dari satu setengah tahun lalu
Si teungku hari ini tiba…mendarat di Sultan Iskandar Muda

Teungku pulang mencari petak kampung halamannya…
Berkendara dalam mobil double cabin plat "BL" ber AC menuju lapangan blangpadang
Menyusuri jalanan  yang kini nampak gersang…dulu cukup rimbun…
Pohon-pohon besar tua sebagian besar tlah tumbang
Kini pohon-pohon kecil muda ditanam mengorek tanah dengan akarnya

Gedung lama tinggal sebagian, gedung baru bertaburan
Dewan Syariat Islam di samping kanan
Jalan menuju Baiturahman

Menara itu sedikit condong….sekilas memang tak tampak
melaju sedikit lagi…bertemu lapangan blangpadang
Ada pesawat di atas tandu beton di pinggir lapangan
Peringatan pesawat Haji pertama negeri ini.
Satu setengah tahun lalu lapangan ini jadi hamparan mayat
Rumah teungku kini tinggal puing beton saja dan lantai marmer cuil

Teungku mencari rumah masa kecilnya
Masa berlatih tarian saman
Daerah itu kini sepi dan gersang
Perkampungan itu kini rata…bahkan sudah termakan air
"Wah, mana rumah si Rumpe?"
Pertanyaan berbisik kecil di mulutnya…

Ditemukannya mulut sumur di tepian pantai…
Bertulis "Seulama Teuka" dengan cat merah…
Termangu, lemas, sejenak terdiam…

Sumur di pinggir pantai itu…
Dulu sumur di tengah rumah Rumpe, sahabat kecil
Tempat mengambil air wudlu
Lama tak bersua…rindu menganga
Hati tak jumpa

Dicarinya tentang Rumpe….
Mungkin Rumpe telah beristirahat di pemakaman massal
Teungku letih kembali menuju negeri Belanda
Membawa bekas kenangan atas sumur tempat air wudlu
Sumur yang telah jadi pantai

Deretan Pecinta Kenyataan

June 25th, 2006 by widiyas

Maaf tuan, orang-orang ini hanyalah bagian dari kami
Maaf tuan, jika membuatmu dalam kesulitan

Deretan orang ini hanya pecinta kenyataan
Bukan deretan orang yang bertindak asal bapak senang
Deretan orang ini hanya suguhkan kenyataan
Meski itu pedih, sulit, atau mengancam karir tuan
Tapi ini kenyataan yang akan menguji tuan
Ujian bagi seorang yang "dikenal" seperti tuan

Deretan orang ini tidak menginginkan nama
Juga tidak menginginkan tuan menjadi simbol nama
Simbol nama tanpa keringat dan emosi
Dalam pikir mereka…
"enak kali tuan jadi mulia, kami diperah keringat dan emosinya"
Itu mungkin yang terdengar dari jeritan kecil hati mereka

Deretan ini hanya suguhkan kenyataan bagi tuan
Jangan berpangku tangan jika menjadi tuan
Bukan simbol nama saja, tapi keringat dan emosi

Maaf tuan…..

Sendiri

June 17th, 2006 by widiyas

Tersenyum
Tertawa
Menangis
Terdiam

Bersalaman dan canda dengan teman
Bercengrama dan berbicara dengan teman
Tapi jiwa di diri adalah sendiri
Saat ini mulai lagi sendiri dan sepi
Meski khalayak tetap ramai dan berlalu lalang
Tapi jiwa terpasung sepi

Paling menyakitkan bukanlah saat kesendirian dalam kesedihan
Paling menyakitkan adalah saat bahagia tanpa bisa berbagi dengan yang dicinta

Pasungan mimpi semakin mengekang jiwa
Jiwa semakin meronta
Mimpi hanya tinggal mimpi
Hidup di alam mimpi
Hidup dalam lelap
Lelap tanpa gairah

Pasungmu mengekang jiwa

Dirjo dan Warsiti

June 3rd, 2006 by widiyas

Malam mencekam
Seiring listrik yang padam
Lilin kecil memberi pelita
"Pak dhe Dirjo dimana ?"
Warsiti melengkingkan suaranya

Warsiti sebelas tahun
Tidur di jalanan "Paris"
Tak tampak seperti apa tampangnya
Suara lelaki, Dirjo
"siti, warsiti, bobok nduk"

Rumah petak dua kamar luluh lantak
Sekarang Dirjo dan warsiti tidur
Beralaskan tikar bambu dan beratap plastik terpal

Bicaramu apa

June 3rd, 2006 by widiyas

Bicaramu apa
Bibirmu belum pernah ditampar
Otakmu belum pernah diremas
Hatimu belum pernah disayat
Telingamu belum pernah dirajang
Lidahmu belum pernah diikat
Matamu belum pernah disundut

Begitu angkuh….sok….
"Jagoan lu"
Ngomong sembarangan

Kasar kepada anjing bisa diterkam matang-matang
Kasar kepada manusia kau diterkam pelan-pelan

Tunggu saja waktunya…..